Legenda Danau Toba yang jarang diketahu

Legenda Danau Toba

Danau Toba, yang merupakan danau vulkanik terbesar di dunia tidak hanya menjadi objek wisata alam kebanggaan Sumatra Utara tetapi juga kebanggaan Indonesia. Namun, dibalik keindahannya, ternyata tersimpan sebuah Legenda Danau Toba Yang Jarang Diketahui.

Bagaimana kisahnya?

Alkisah paza zaman dahulu di sebuah tempat di lembah pengunungan hiduplah seorang pemuda bernama Toba. Pemuda ini adalah seorang laki-laki dewasa yang mandiri. Ia hanya hidup sendiri di gubuk sederhana milikinya. Meskipun begitu, ia tetap merasa bahagia karena ia merasa kehidupannya sudah lebih dari cukup.

Ia mengolah lahan pertanian yang ia miliki. Maklum, sebagai daerah pegunungan, desa tempat Toba tinggal tergolong tempat yang sangat baik untuk bercocok tanam. Hampir semua warga di desanya juga menjadikan bercocok tanam sebagai mata pencaharian utama mereka. Dan dari sinilah Toba bisa mencukupi kebutuhan hidupnya senari-hari. Selain didukung lahan yang subur, Toba juga memiliki sifat rajin sehingga tak heran jika hasil panennya selalu memuaskan.

Baca juga: Tempat Wisata Medan yang wajib dikunjungi

Pada suatu hari Toba mempercepat kegiatannya di ladang, sehingga ia sudah pulang sebelum matahari beranjak melewati atas kepala. Ia sengaja melakukan hal itu karena ia tiba-tiba merasa sangat ingin memancing. Di sungai di desa tempat Toba tingga memang terdapat sebuah sungai yang airnya jernih lagi bersih dan ikan di sana pun banyak. Tak heran jika banyak sekali penduduk desa yang memancing di sana untuk mendapatkan ikan yang biasanya dijual ataupun dimakan sendiri.

Tetapi hari itu tidak seperti hari biasanya. Sebab pinggiran sungai tempat Toba memancing bersama teman-temannya terlihat sepi dan lengang. Hanya ia seorang diri di sana. Namun hal tersebut tidka membuat semangatnya surut. Ia langsung melemparkan kail dan umpannya ke Sungai. Biasanya belum sepuluh menit pancingannya sudah akan menjerat ikan, namun sekarang sudah hampir dua jam ia termangu seorang diri namun belum mendapatkan hasil apapun.

Alhasil, hari semakin siang dan perutnya sudah mulai lapar karena sudah memasuki waktu baginya untuk makan siang. Ia pun segera menarik kembali pancingannya dan memutuskan untuk pulang. Namun, alangkah terkejutnya ia saat akan menarik kail, seekor ikan ternyata terjerat di mata pancingnya. Dengan bersenang hati, Toba pun mengangkat ikan tersebut.

Ikan yang didapatnya itu ternyata sangatlah besar dengan sisik kuning kemerahan yang cantik serta mata besar yang bersinar. Oleh karena itu meskipun niat hati ingin sekali menggoreng ikan itu untuk lauk makan siang, Toba tidak tega melihat binar indah mata ikan tersebut yang seakan berakata untuk tetap dibiarkan hidup. Maka sesampainya di rumah, Toba pun memasukkan ikan cantik itu ke dalam sebuah ember miliknya yang biasanya digunakannya untuk membawa air ke Ladang.

Pada suatu siang yang sangat panas, Toba pulang dari Ladang dlaam keadaan yang sangat lelah dan lapar. Namun, alangkah terkejutnya ia saat mendapati beragam makanan enak telah tersaji di dapur. Padahal tak ada siapapun yang tinggal di rumah tersebut kecuali dirinya. Para tetangganya pun tak mungkin memasakkan makanan seenak itu untuk dirinya. Kejadian tersebut tidka hanya berlangsung satu hari, namun sudah satu minggu.

Toba selalu berusaha pulang lebih cepat agar dapat melihat siapa gerangan yang telah memasak untuknya, namun selalu gagal.

Pada suatu pagi, Toba kembali berangkat dari rumahnya menuju ladangnya sambil membawa sebuah parang dan cangkul. Baru melewati beberapa rumah tetangganya, ia pun menyelinap untuk kembali ke rumahnya. Dan alangkah terkejutnya ia saat ia mendapati seorang gadis cantik nan jelita sedang memasak makanan di dapurnya. Ia berteriak spontan dan menanyai siapa gadis itu dan apa yang ia lakukan di dalam rumahnya.

Gadis itupun menceritakan asal muasal dirinya hingga di kutuk menjadi seekor ikan dan diselamatkan oleh Toba. Ia sangat berterima kasih atas kebaikan hati Toba yang tetap membiarkannya hidup, untuk itu ia ingin berbakti kepada Toba dengan menjadi istrinya. Akhirnya, dalam waktu singkat, menikahlah Toba dan si gadis dengan satu syarat, bahwa Toba harus bersumpah tak boleh sekalipun mengungkapkan asal muasal si gadis yang sebelumnya dikutuk menjadi ikan itu. Toba pun menyetujuinya.

Maka hiduplah sepasang suami istri itu dengan berbahagia. Mereka menjadi pasangan yang snagat serasi dan membuat iri seluruh penghuni desa tersebut. Toba semakin rajin bekerja di ladang dan istrinya juga rajin mengerjakan pekerjaan rumah sehari-hari. Setahun kemudian, kebahagiaan pasangan suami-istri itu lengkap dengan lahirnya seorang bayi laki-laki bernama Samosir.

Namun sayangnya, Samosir tak menurunkan sifat baik dan rajin dari kedua ibu-bapaknya. Ia tumbuh menjadi anak yang nakal dan tak mau menuruti perintah orang tua. Namun, kedua ibu-bapaknya selalu sabar dan mencoba untuk mendidik Samosir agar menjadi anak yang patuh dan berkelakuan baik.

Pada suatu hari yang sangat panas, Samosir yang sedang bermain bersama teman-temannya disuruh ibunya untuk mengantarkan makanan untuk ayahnya di ladang. Karena sedang asyik bermain, Samosir menolak, namun karena terus didesak oleh sang ibu, akhirnya Samosir terpaksa menurut. Ia pun berjalan gontai menuju ladang ayahnya. Di tengah perjalanan, ia merasa sangat lapar. Maka terlintaslah dipikirannya untuk memakan sedikit makanan yang akan diberikan kepada ayahnya itu. Namun, tak sadar ia hampir menghabiskan smeua makanan tersebut sehingga yang tersisa sangat sedikit.

Sesampainya di ladang, ia segera memberikan rantang kepada sang ayah dan ia pun bermain di sekitar ladang. Sang ayah yang menerima rantang makanan merasa sangat senang karena ia memang sedang diliputi rasa haus dan lapar yang sangat besar. Namun alangkan marah dan kecewanya ia saat mendapati botol minuman sudah kosong dan yang tersisa hanya sisa-sisa makanan saja. Ia langsung memanggil dan memukul Samosir seraya berkata “Anak nakal, anak tak tahu diri, tak tahu diuntung, dasar anak ikan”.

Samosir pun segera lari pulang ke rumah sambil menangis. Sementara Toba merasa telah menyesal memukul anaknya dan mengatakan kata-kata demikian karena kata-kata itu berarti telah membuatnya melanggar sumpahnya sebelum menikah. Maka ia pun berlari pulang ke rumah menyusul Samosir.

Sementara di rumah, Samosir menangis sambil memeluk ibunya dan menceritakan apa yang terjadi. Sang ibu langsung menyuruh sang anak untuk menaiki sebuah bukit di dekat rumah mereka dan memerintahkannya untuk memanjat pohon tertinggi di bukit tersebut. Samosir segera melakukan perintah ibunya.

Sementara sang ibu, ia segera berlari menuju sungai dan seketika itu pula, angin bergemuruh dan hujan badai turun sangat lebat hingga membuat sungai tersebut meluap dan menenggelamkan Toba hingga membentuk danau Toba. Sedangkan pulau kecil ditengahnya dinamakan pulau Samosir.

Demikianlah Legenda Danau Toba yang jrang diketahui. Semoga kita semua dapat mengambil pelajaran berharga dari kisah ini.

Recommended Posts

Leave a Comment